Admin 04 Jun 2026 03:32

 

Jangan Gunakan “Does that make sense?” Terlalu Sering

Kalimat “Does that make sense?” atau terjemahannya “Apakah itu masuk akal?” sering muncul dalam percakapan, presentasi, atau materi pelatihan. Pada awalnya, pertanyaan ini berguna untuk memastikan pendengar atau pembaca mengikuti alur pemikiran pembicara. Namun, bila digunakan secara berulang‑ulang, kalimat tersebut dapat menimbulkan efek yang justru berlawanan dengan tujuan awal: kebingungan, rasa tertekan, atau bahkan menurunkan rasa percaya diri.

Mengapa “Does that make sense?” Sering Dipakai?

Beberapa alasan umum meliputi:

  • Kebiasaan pendidikan – banyak dosen atau pelatih memanfaatkan pertanyaan ini sebagai “check‑point”.
  • Rasa tidak yakin – ketika pembicara merasa belum cukup yakin bahwa materi dipahami, ia cenderung menambah pertanyaan klarifikasi.
  • Kepedulian berlebih – ingin menunjukkan empati dengan menanyakan pemahaman pendengar.

Dampak Negatif Jika Terlalu Sering Digunakan

Berikut konsekuensi yang dapat muncul:

  1. Perfeksionisme berlebihan – pendengar merasa harus memberi jawaban “yes” setiap kali, sehingga menekan kebebasan berpendapat.
  2. Kebosanan – pertanyaan yang sama berulang membuat alur pembicaraan terasa monoton.
  3. Rasa tidak dihargai – bila selalu diminta mengonfirmasi pemahaman, pendengar bisa merasa kompetensinya diragukan.
  4. Gangguan fokus – alih-alih menyerap isi materi, perhatian teralihkan pada pertanyaan tersebut.

Alternatif yang Lebih Efektif

Alih‑alih mengandalkan satu frasa, cobalah teknik berikut:

“Jika ada bagian yang kurang jelas, silakan beri tahu saya.”
“Saya akan beri contoh tambahan, apakah itu membantu?”

Kalimat alternatif ini membuka ruang diskusi tanpa menekan pendengar untuk “menyetujui” secara otomatis.

Cara Mengurangi Penggunaan “Does that make sense?”

Berikut langkah‑langkah praktis yang dapat diterapkan:

  • Rencanakan checkpoint – tentukan satu atau dua momen penting dalam presentasi untuk mengecek pemahaman, bukan tiap slide.
  • Gunakan pertanyaan terbuka – “Bagaimana menurut Anda?” atau “Ada yang ingin ditanyakan?” memancing respons yang lebih mendalam.
  • Berikan contoh konkret – setelah menjelaskan konsep, tunjukkan aplikasinya, kemudian tanya “Apa yang Anda rasakan dari contoh ini?”
  • Amati bahasa tubuh – jika sebagian besar peserta tampak mengangguk atau mencatat, kemungkinan mereka mengerti tanpa harus ditanya.

Studi Kasus: Presentasi di Lingkungan Korporat

Seorang manajer proyek, Rina, biasanya menyisipkan “Does that make sense?” setiap tiga menit selama rapat tim. Awalnya, timnya menjawab “yes” secara otomatis. Setelah enam bulan, Rina menyadari penurunan partisipasi aktif. Ia mengubah pendekatannya menjadi:

  1. Menyampaikan agenda singkat di awal.
  2. Setelah menjelaskan fase kritis, ia menanyakan “Apa pendapat Anda tentang risiko yang saya sebutkan?”
  3. Memberi kesempatan bertanya secara bebas pada akhir tiap sesi.

Hasilnya, tim mulai memberikan masukan yang lebih spesifik, dan rasa percaya diri mereka meningkat.

Kesimpulan

Meskipun “Does that make sense?” memiliki niat baik, penggunaannya secara berlebihan dapat merusak dinamika komunikasi. Menggantinya dengan pertanyaan terbuka, memberi contoh konkret, dan mengatur titik cek pemahaman secara terstruktur akan menciptakan dialog yang lebih produktif. Ingat, tujuan utama bukan sekadar memastikan orang mengangguk “yes”, melainkan membangun pemahaman yang sejati.

Untuk memperdalam topik ini, kunjungi MindTools atau baca artikel tentang komunikasi efektif di TED.

Jangan Gunakan "Does that make sense?" Terlalu Sering


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06

Jangan Gunakan "Hmm" Terlalu Sering Saat Presentasi


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06

Jangan Gunakan "Let's circle back" Terlalu Sering


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06

Jangan Gunakan "I forgot" yang Sering Terjadi


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06

Frasa Bahasa Inggris Yang Sering Dipakai Manager Saat Meeting


admin
Admin
2026-06-04 01:50:10